Desa Congkrang, 19 November 2019


Gelaran pilkades serentak di wilayah Kabupaten Magelang tinggal menghitung hari lagi. Pilkades serentak tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 24 November 2019.

Setiap desa yang akan menggelar pesta demokrasi tersebut sudah beragam suasananya. Ada yang landai dan kondusif, ada yang cukup hangat berkompetisi tetapi ada juga yang panaas situasinya...????????

Semua proses demokrasi di desa ini menjadi barometer kedewasaan demokrasi masyarakatnya. Sudah puluhan kali masyarakat desa memilih pemimpinya di tingkat desa dengan berbagai regulasi pilkades yang ada.

Mulai dari lama jabatan kades, tata cara kampanye serta diterapkannya pilkades serentak ini.


Akhir-akhir ini viral beberapa meme yang menuliskan "Seduluran Ojo Bubrah Mergo Pilihan Lurah". Satu rangkaian kata yang salah kaprah karena sejatinya lurah itu secara administratif diangkat tidak dipilih.

Yang dipilih itu adalah kepala desa. Tetapi tidak menjadi masalah, pilihan kata yang salah kaprah tetapi benar-benar mendewasakan masyarakat desa dalam berpolitik serta membuat masyarakat tetap guyub rukun.

Dalam setiap pilkades sering kita mendengar istilah botoh atau juga money politik. Justru biasanya fenomena kedua hal tersebut lebih kenceng dibanding perhelatan politik lainnya seperti pilkada dan pileg.

Kadang pilkades sebagai ajang berjudi. Sehingga kekuatan uang menjadi salah satu penentu didalam pilkades.


Akan tetapi saya sebagai pengamat sosial masyarakat desa melihat fenomena botoh dan politik uang ini mulai terkikis dengan semakin dewasanya sikap politik serta terbukanya pola pikir di masyarakat.

Masyarakat desa mulai cerdas dalam memilih calon pemimpinnya. Pertimbangan kapasitas, kompetensi, jiwa kepemimpinan yang ngayomi dan ngayemi serta sifat yang jujur serta amanah akan menjadi pertimbangan para pemilih.


Dalam beberapa penelitian pilkada di seluruh Indonesia didapatkan data bahwa perilaku pemilih di Indonesia secara mayoritas tidak setuju dengan dengan politik uang atau money politik.

Tetapi ketika ditanya, apakah bapak ibu akan menerima bila dikasih uang? Dominan pemilih menjawab, iya akan menerima. Tetapi ada pertanyaan selanjutnya, bapak ibu akan memilih orang yang memberi uang tersebut?

Ternyata kebanyakan orang menjawab belum tentu. Jadi banyak aktor-aktor politik yang bermain politik uang kata orang Jawa kecelek atau _zonk.

Berdasarkan beberapa pengalaman di atas, saya sebagai bagian dari masyarakat desa mengajak kepada semua komponen yang akan melakukan pilkades baik calonnya, panitianya ataupun masyarakat pemilih untuk menyambut pilkades serentak dengan gembira dan niat yang mulia.

Yaitu memilih kepala desa yang dapat memajukan desa dan masyarakatnya. Yang punya visi serta kapasitas, yang jujur dan amanah di dalam menjalankan tugasnya. 


Niat yang mulia lakukan dengan cara-cara yang mulia juga. Kemuliaan adalah tujuan utama dibandingkan sekedar kemenangan. Tetapi menang dengan cara mulia itu lebih hebat dan bermartabat. 

Jangan lupa, apa yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan akherat.(Anang)


Salam Dari Desa

Dari Desa Untuk Indonesia

Dari Desa Untuk Dunia