Desa Congkrang, 28 Oktober 2019


Pesta demokrasi rakyat akan digelar lagi. Setelah pilpres dan pileg serentak yang cukup melelahkan serta memecah belah rakyat sekarang masyarakat desa di berbagai wilayah akan diuji lagi dengan Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades. 

Ribuan desa di berbagai wilayah di Indonesia akan menggelar pilkades serentak pada bulan November 2019. Khusus di Kabupaten Magelang ada 294 desa yang akan melaksanakan pilkades pada tanggal 24 November 2019.

Tahapan pendaftaran calon-calon kepala desa sudah mulai dibuka. 

Pilkades adalah tonggak demokrasi pertama sebelum ada pilkada langsung dan pilpres secara langsung oleh rakyat. Masyarakat desa dengan berbagai karakter dan keunikannya memilih pemimpinnya sendiri secara langsung.

Dahulu simbolisasi calon kades diwakili dengan gambar ketela, padi, jagung dan beberapa simbol unik untuk "jago" kadesnya.

Kelihatannya hanya pilkades, tetapi apabila tidak dikelola dengan baik akan membawa dampak sosial yang serius. Konflik karena pilkades akan lebih terasa dan bertahan lama dibandingkan konflik karena pileg, pilkada atau pilpres.

Satu keluarga bisa tidak saling tegur sapa karena pilkades. Rumah berdekatan bisa saling bermusuhan karena beda "jago" di pilkades.


Sekarang desa semakin maju. Masyarakat desa juga semakin hari semakin cerdas berpolitik. Memilih pemimpin tidak asal ikut-ikutan atau anut grubyuk.

Masyarakat desa sudah pintar memilih pemimpin atau kepala desa yang akan membawa kemajuan di desanya, yang bisa ngayomi dan ngayemi masyarakatnya. 


Biasanya dalam pilkades tidak terlepas dengan fenomena money politic, serangan fajar atau jual beli suara. Ada juga yang menjadi "botoh" dari salah satu calon untuk selanjutnya pasang taruhan.

Sekarang saatnya kita menjadi pemilih yang cerdas. Masa depan desa jangan dipertaruhkan hanya karena uang yang tidak seberapa.

Pilihkan calon kepala desa yang pintar, baik, benar dan pemberani. Hadir di masyarakat, menjadi pemimpin yang dapat mbelani, nyontoni kepada masyarakatnya.


Dana desa yang sangat besar untuk pembangunan dan kemajuan desa harus dikelola oleh kepala desa yang jujur, amanah dapat dipercaya.

Dana desa rata-rata satu milyar satu desa. Pemimpin desa harus memiliki visi, misi yang positif serta produktif. Kalau ada calon kepala desa yang membagi-bagi uang, pikir ulang untuk memilihnya.

Jangan sampai mencari jabatan dengan membagi uang setelah jadi motivasinya adalah mengembalikan modal dan menumpuk keuntungan.


Selamat memilih pemimpin di desa masing-masing. Jaga kerukunan, persatuan dan kedamaian desa. Karena silaturahim itu lebih penting dari pilkades yang hanya menjadi gawe politik enam tahunan.

Mirip halnya dengan pileg, pilkada atau pilpres setiap lima tahunan. Orang desa harus memberi contoh kepada elite politik di Jakarta tentang arti demokrasi yang sejati yang dilakukan dengan suka cita. 

Salam Dari Desa ,Dari Desa Untuk Dunia (triistan).